Entrepreneurship
Hampir setiap pagi kita mengucapkan, Mandiri, Professional Dan Siap Berakhlak Iislami, namum apakah itu hanya sebatas suara yang keluar dari mulut atau memang sebuah ucapan yang di landasi dari sebuah pemikiran dan paradigma hidup setelah kita masuk pesantren ini. Tulisan ini di buat agar kita bisa memahami apa yang kita ucapkan dan tau persis apa yang akan kita lakukan untuk mewujudkan individu yang mandiri guna meraih hidup yang sukses dan mulia.
Berangkat dari sebuah pemahaman bahwa kemandirian dalam konsep Islam berbeda dengan kemandirian dari konsep barat. Dimana kemandirian dalam Islam mengandung arti bahwa seseorang yang berkepribadian Islam harus bersikap menurut syariat Islam. Begitu juga dengan kemandirian harus di dasarkan pada sumber utama hukum agama Islam yaitu al-quran dan al-hadist, berbeda dengan konsep kemandirian barat yang di dasarkan pada kehidupan yang dijiwai dengan matrealistik dan menolak teistik. Sesuatu yang paling dasar dari konsep kemandirian adalah kebebasan memilih jalan hidupnya sendiri. Sedangkan Islam menghargai hak-hak asasi manusia, sehingga manusia sebagai khalifah di bumi dapat mengembangkan potensi fitrah dan potensi ruhaninya untuk menjadikan dirinya menjadi individu yang mandiri, agar mudah dalam merealisasikan masyarakat yang sejahtera lahir dan bathin.
Konsep kemandirian dalam islam tidak terlepas dari nilai religius, seperti yang di kemukakan filosof Islam Ibnu Miskawih, ia mengemukakan bahwa ada empat keutamaan jiwa yang dapat mengarahkan kepada peliliknya untuk mengatur tingkah laku dirinya sndiri secara bermoral sdan benar, empat keutamaan jiwa itu adalah kearifan (al-hikmah), keberanian (syaja’ah), keadilan (al-adalah), kesederhanaan (al – ‘iffah). Imam al –Ghazali juga mengatakan bahwa, usaha yang hanya menggantungkan pada akal dan kemampuan tubuh, sama sekali tidak menggantungkan diri kepada Allah akan menyebabkan kebodohan untuk mengenal Allah, dan dapat menjadikan seseorang menyimpang dari ajaran kebenaran Allah.
Dari pemahaman diatas menjelaskan bahwa islam menekankan kemandirian yang tidak keluar dari nilai tauhid, yakni mengesakan Allah.Uraian di atas masih bersifat umum untuk lebih rinci mengupas kemandirian berikut adalah variable variable menjelaskan tetang konsep kemandirian:
1) Adanya usaha sendiri, artinya bahwa individu itu mempunyai kekmampuan untuk merealisasikan keinginnanya dengan usaha sendiri dan menghasilkan karya atau hasil berupa barang atau uang, sebagaimana firman Allah dalam Surah (53:39-41) “dan bahwasanya seseorang manusia tidak akan memperoleh selain apa yang ia usahakan.dan bahwasanya usaha itu kelak akan di perlihatkan kepadnya, kemudian akan diberi balasan dengan balasan yang sempurna”.
Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasuluallah Muhammad SAW.
“Dari Miqdad bin Ma’di Yakrib ra. Rasuluallah berkata:” sesungguhnya seorang yang mencari kayu bakar yang di gendong di punggungnya lebih baik daripada orang yang meminta minta yang kadang di beri kadang tidak.” HR Mutafaq’Alaih.
2) Istianah, memohon pertolongan kepada Allah, jadi seorang yang mandiri adalah orang yang mau memohon kepada Allah. Karena dialah yang maha kaya dan maha pemberi dan selalu ikhlah dalam setiap pemberianya, sebagaimana Firman –Nya dama Qs (2:45) yang artinya:
“Jadikanlah Shalat dan sabar sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu lebih berat. Kecuali orang oaring yang khusyu.
3) Syaja’ah (pemberani), jadi orang yang mandiri adalah orang memiliki iman yang berkualitas, sehingga muncul keberanian untuk menhadapi sesuatu tanpa rasa takut dan ragu. Rasa tajut dan ragu bagi orang yang beriman tidak di peruntukkan bagi niat untuk berbuat baik, tetapi pada jalan mendekati dosa, sebab hanya Allah yang patut ditakuti , karena dia tidak pernah tidur dan lupa, Dia selalu mengawasi setiap perbuatan dan niat manusia, Allah berfirman dalam Surat (49:15)
“ sesungguhanya orang yang beriman adalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu –ragu dan mereka berjihad dengan jiwa dan harta mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar”.
4) Mu’awanah (tolong-menolong). Orang yang mandiri bukan berarti tidak membutuhkan orang lain dan Allah. Orang lain adalah apa yang kita kerjakan mempunyai nilai dan manfaat. Orang lain dalam bekerja merupakan sebagai sepirit atau motivasi untuk tolong- menolong dalam proses kerja dan pemanfaatan hasilnya. Allah Berfirman dalam Surat ( : )
“Dan tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan jangnlah tolong menolong dalam hal yang bathil” .
5) Ulet, dan Gigih. Orang yang mandiri adalah orang yang ulet dan gigih dalam melakukan pekerjaan. Ia tidak mudah putus asa,ia akan maju hingga kekuatan yang terakhir. Hidup adalah bekerja, bekerja adalah ibadah kegigihan dalam berkerja adalah pahala. Sebagai mana firman Allah (12:87)
“Hai anak-anakku pergilah kamu carilah berita tentang yusuf dan saudarnya dan janganlah kamu putus asa dari rahmat Tuhan. Sesungguhnya tidak perputus asa dari rahmat Allah kecuali oaring kafir”.
6) Tawakal (berserah diri kepada Allah). Berserah diri kepada Allah merupakan cirri individu yang mandiri, orang yang mandiri tidak akan merasa kawatir atas hasil usahanya, mereka yakin bahwa usahanya membawa hasil sedikit atau banyak, sempurna atau tidak yang jelas ia telah berusaha semaksimal mungkin akan selanjutnya ia serahkan kepada Allah yang maha memberi rizki, sebagaimana firman Allah dalam Surat (3:159)
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad maka hendaklah bertawakal kepada Allag sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
7) Berjiwa Besar. Orang yang mandiri adalah orang yang menerima kenyataan dengan lapang dada, ia tidak pernah berkeluh kesah, dan menerima setiap kenyataan yang ada dalam hidup. Kekalahan /kegagalan bukan berarti kehinaan, tetapi merupakan ujian dari Allah sebagaimana Firman Allah dalam surat (3:139)
“jangnalah kamu bersikap lemah dan bersedih hati, padahal kamulah orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu oaring yang beriman”.
8) Sabar, orang yang mandiri memiiki kesabaran dalam melakukan pekerjaan. Ia bertindak penuh perhitungan dan perencanaan, tidak keburu nafsu yang mengakibatkan kesalahan besar, sebagaimana firman Allah dalam surat (8:46)
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya jangan lah kamu berbantah-bantahan sehingga kamu kehilangan kekuatan dan gentar dan bersabarlah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
9) Disiplin dalam kerja, orang yang mandiri adalah orang yang ingin sukses secara pribadi, maka dari itu ia harus menjaga kedisiplinan dalam kerja, sebab setiap pekerjaan di lakukan dengan cermat, rapi, dan teratur akan dapat mendapatkan hasil yang memuaskan Allah berfirman dalam surat (16:97)
“Barang siapa yang mengerjakan perbuatan shaleh baik laki-laki atau perempuan dalam keadaan beriman. Maka akan kami berikan kepadanya kehidupan yang lebih baik, dan sesungguhnya akan kami berimu balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada yang telah merekakerjakan”.
10) Bekerja dengan cara yang halal. Orang yakiang mandiri adalah orang yang mempunyai kemampuan untuk dapat berbuat sendiri, artinya mereka tidak akan berbuat yang dapat merugikan orang lain untuk kepentingan sendiri. Dengan ilmu yang di milikinya ia akan lebih percaya diri dan membuang jauh- jauh cara kerja yang kotor atau keji, lihat firman Allah dalam Qs (4:29)
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamu denngan cara yang bathil , kecuali dengan cara perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu, dan Allah mengancam siapa saja yang mencari harta dengan jalan yang bathil, dan barang siapa yang berbuat demikian melanggar hak dan aniaya maka kelak kami akan masukan ke neraka yang demikian itu mudah bagi kami.
11) Muhasabah (membuat perhitungan). Jadi orang yang mandiri adalah orang yang mampu membuat perhitungan terhadap amal perbuatanya sendiri sewaktu di dunia. Sebab senua amal perbuatanya akan di perhitungkan tanpa sisa. Maka dari itu hitunglah amal perbuatan kita.
12) Senantiasa bersyukur kepada Allah ditandai dengan rela berkorban untuk orang lain dengan jalan berinfak dan bersedekah, orang yang mandiri adalah orang yang kuat dalam norma moral. Orang yang kuat adalah pelindung bagi yang lemah, jadi orang yang mandiri adalah orang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap lingkungan sekitar, lihat firman Allah Qs (51:19),
“dan pada hata mereka ada hak orang miskin dan orang miskin yang tidak menapat bagian (yang tidak mau meminta).
13) Bebas memilih hidup yang di tempuh. Orang yang mandiri merupakan orang yang telah matang dalam segala hal, artinya dengan kematangan dirinya itu ia mampu memilih jalan dalam beramal dan tujuan akhir dari pilihanya. Orang yang mandiri pasti menentukan jalan hidupnya pada jalan yang lurus. Karena orang yang mandiri itu memiliki ilmu pengetahuan untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Allah befirman dalam Qs (76:3)
“ sesungguhnya kami telah menunjukan jalan yang lurus, ada yang bersyukur ada yang kafir”
Dan Dalam Surat 17:7
“ Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik kepa diri sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka kejhatan itu untuk diri kamu sendiri”
14) Punya Semangat berprestasi, Semangat berprestasi adalah dorongan jiwa yang kuat dalam melakukan pekerjaan. Dorongan berprestasi merupakan manifestasi dari iman yang kuat, diiringi dangan tekad yang kuat. Wiarusahawan adalah individu yang siap untuk berkompetisi dalam berbuat kebaikan. Lihat firman Allah Qs (5: 48),
“ maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan , hanya kepada Allah-lah kamu kembali semuanya lalu diberitahukanyakepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu .
Untuk berprestasi islam mengajarkan agar pekerjaaan dilakukan dengan baik, kemudian mensyukuri hasil yang diperolehnya dan jangan menyombongkan diri. Sesungguhnya yang memberikan fasilitas semua adalah Allah. Semangat berprestasi adalah dorongan kuat dari jiwanya untuk mencapai target tertinggi sesuai dengan kemampuanya sendiri dan diringi dengan do’a untuk memohon pertolonganya.
Rumusan nilai-nilai kewirausahaan haruslah menggambarkan pribadi yang integral tidak parsial, karena harus mencerminkan nilai spiritual-religius, yaitu adanya unsur ketauhidan dalam jiwa seorang wirausaha, selain menjadi Pribadi yang aktif menjalankan bisnis juga harus menimiliki jiwa yang memiliki muatan nilai-nilai yang bersumber dari agama. Untuk menanamkan jiwa kewirausahaan yang konprehensip maka di perlukan strategi- strategi sebagai berikut :

0 comments:
Post a Comment